Beranda > Uncategorized > Raksasa Tidur Bernama Indonesia

Raksasa Tidur Bernama Indonesia

Tulisan ini saya tulis di malam 16 Agustus 2012, sehari sebelum peringatan kemerdekaan ke 67 Republik Indonesia. Qadarullah, 17 Agustus tahun ini jatuh di bulan Ramadhan, sama seperti 67 tahun yang lalu. Ya, 67 tahun yang lalu kita merdeka. Kita menyatakan pada dunia, kami adalah Indonesia dan bukan lagi Hindia Belanda, bukan jajahan siapapun juga!!!

Seingat saya, sebagai seorang anak Indonesia, saya dibesarkan dengan doktrin yang terus-menerus disebarkan di sekolah-sekolah kita bahwa negeri ini adalah negeri yang amat kaya. Tanah surga, kata Koes Plus. Tanah di mana tongkat kayu dan batu pun bisa jadi tanaman. Tanah di mana kopinya adalah kopi termahal dunia, tanah di mana hutannya menjadi paru-paru dunia, tanah yang dihuni oleh populasi terbesar keempat di dunia. Lautnya juga tak kalah indah. Sebut Bunaken dan Raja Ampat di depan para penyelam dunia, dan saya yakin pasti pujian meluncur deras dari mulut-mulut mereka.

Inilah negeri di mana budayanya adalah paduan unik budaya-budaya dari peradaban dunia sekaligus bukti kejeniusan penduduknya. Hanya di Indonesia, kita menemui masjid berarsitektur atap China dan membawa elemen punden berundak dari zaman pra Islam serta jejak peradaban Hindu-Buddha. Dalam segi kesusasteraan, kita bisa lihat bahwa Mahabarata dan Ramayana versi Indonesia amat berbeda dengan aslinya yang ada di India. Konon di sana, tak ada Semar dan ketiga anaknya. Dan tokoh Srikandi aslinya adalah seorang lelaki!!! Dari ranah kuliner, we have the most delicious dish in the world, dude! Rendang rocks!!! Dan kalau Anda lihat ke kebudayaan aslinya di Cina, kecap sebetulnya tidak pakai gula palem. Kecap manis seperti yang kita kenal di sate atau bubur ayam, adalah orisinal milik kita, Indonesia.

Ada ratusan, bahkan ribuan alasan yang bisa saya tuliskan, kenapa saya bangga menjadi orang Indonesia.
Kembali ke judul artikel ini, RAKSASA TIDUR. Ya, saya rasa tidak hanya saya, tapi juga Anda yang sedang membaca artikel ini (apapun agama dan suku Anda) pasti setuju jika saya bilang bahwa negeri kita tercinta ini sebetulnya punya modal yang lebih dari cukup untuk menjadi negeri SUPER POWER. Anda tidak salah baca, SUPER POWER! Kita punya jumlah penduduk yang hampir sama banyak dengan Amerika Serikat, dan SDA yang jaaauuuhh lebih mumpuni dari Jepang. Malah harusnya, kita kesulitan cari alasan kenapa tidak jadi negara adidaya.

Kalau negeri ini bisa kita ibaratkan sebuah tembok mega besar, maka tembok besar itu disusun oleh jutaan batu bata, KITA. Setiap kita adalah batu bata penyusun tembok Indonesia. Kalau saja, setiap kita berusaha memperbaiki diri sendiri, setiap saat, maka pada skala besar akan ada perbaikan bangsa. Tak usah dari yang muluk-muluk, dari hal sederhana saja. Buang sampah pada tempatnya, misalnya? Pandji Pragiwaksono pernah mengkritik dalam salah satu opininya, ada orang-orang Indonesia, orang-orang kita, yang ketika berada di Singapura dengan patuhnya membuang sampah pada tempatnya. Namun, orang yang sama, ketika berada di Jakarta, membuang sampah di tengah jalanan dengan cueknya.

Terakhir, saya pernah baca bahwa Malaysia pernah meluncurkan visi nasional Malaysia 2020. Artinya, negara itu menargetkan bahwa pada 2020, Malaysia akan masuk ke dalam kategori negara maju. Pemerintahnya punya visi akan jadi apa negara mereka di 2020 dan kemudian menyebarkan dan menumbuhkan keyakinan pada rakyatnya bahwa mereka bisa. Saya tak tahu, apakah presiden-presiden di negara ini punya visi macam itu, ataukah visi mereka adalah memenangkan pemilu selanjutnya??

(Selesai ditulis 17 Agustus 2012, pukul 00:47… Harapan masih ada buat Indonesia…)

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: