Beranda > Hari-Hari > Yang Baik, Didapatkan dengan Cara Yang Baik (Nasihat untuk Diri Sendiri)

Yang Baik, Didapatkan dengan Cara Yang Baik (Nasihat untuk Diri Sendiri)

Bersedekah dengan harta hasil korupsi adalah sesuatu hal yang konyol. Apalagi kemudian jika berharap bagian kotoran yang dikeluarkan bisa menyucikan sisa yang tak kalah “najis”nya. Begitu pula berobat dengan sesuatu yang jelas-jelas diharamkan Allah seperti darah ular. Sebagian orang berdalih (tentang obat yang jelas-jelas haram), “Namanya juga buat obat, Allah juga maklum…” Entahlah, setahu saya ada hadits yang menyebut bahwa Allah tidak meletakkan kesembuhan pada apa-apa yang haram. Tapi saya bukan ustadz, jadi memang tidak terlalu didengar omongannya.

Begitu pula nikah, sesuatu yang amat baik. Saking baiknya sehingga Rasul sendiri menganggap orang yang membenci sunnah yang satu ini sebagai “di luar golongan kami”. Juga sempat menegur salah seorang sahabatnya yang belum nikah (padahal berkemampuan) dengan kalimat, “Apakah engkau temannya setan? Atau jangan-jangan engkau segolongan dengan para Rahib Yahudi dan Nasrani?” Inilah sunnah yang menyempurnakan separuh agama, dengan taqwa sebagai penyempurna separuh sisanya.

Maka, karena ia adalah sesuatu yang baik, ia harus didapatkan dengan cara yang baik. Dengan cara yang Ia ridhai. Saya masih pada idealisme saya untuk tidak pacaran sebelum nikah. Sebuah idealisme yang asing, bagi keluarga dan tetangga-tetangga saya. (Tapi bukankah memang para idealis harus bersiap berkawan dengan sepi, seperti Gie?)

Berta’aruf, sepertinya pilihan yang pantas diambil. Meskipun menurut Ust. Salim A. Fillah, penggunaan istilah “ta’aruf” untuk perkenalan pra-nikah adalah penyempitan makna yang kurang tepat, tapi sudah kadung membudaya penggunaan kosakatanya. Konsepnya adalah dua orang yang ingin menikah, dipertemukan dengan ditemani perwakilan keluarga dan guru ngaji. Di sana, dibincangkan tentang visi, misi, dan target capaian rumah tangga. Bila cocok, lanjut ke khitbah dan akadnya. Jika tidak, cukup sekian, dan terima kasih atas kesempatannya.

Saya sendiri belum pernah mempraktekkan konsep ini langsung. Dan jujur, saya pikir akan aneh rasanya marrying a total stranger, somebody who comes into my life out of blue. Tapi mereka yang mempraktekkan (menikah dengan orang yang memang sama sekali baru dikenal) bilang, ada berkahnya tersendiri, dan insya Allah lebih dinamis hidup rumah tangganya karena ada begitu banyak variabel-variabel yang bisa ditelusuri, dicari tahu, dan dijelajahi. Cinta? Kalau menikah karena Sang Maha Pemilik Cinta, tak mungkin Ia tak menumbuhkannya. Dan niat bisa lebih dijaga.

Saya iseng bertanya pada diri sendiri, lalu bagaimana dengan ‘Ali dan Fathimah, hehe? Yang jelas, ‘Ali dan Fathimah tidak ketemu di Mall, nonton bioskop, makan di restoran, lalu pulang bergandeng tangan naik taksi bertuliskan “Tarif Bawah” seperti yang banyak dilakukan banyak pemuda-pemudi Muslim saat ini. Mereka tetap menjaga interaksi mereka sesuai batas-batas syar’i. Dan penjagaan itu juga termasuk kata. Tidak ada kalimat mendayu, atau janji berbunga ini-itu. Dan kemudian, ternyata memang ia jodohnya. Dan Fathimah pun bercerita pada suaminya,

“Dulu, sebelum menikah denganmu… Aku sempat jatuh cinta pada seorang pemuda.”

‘Ali, tampak pias tak suka mendengarnya lalu bertanya, “Siapa dia?”

Jawab sang puteri Rasul, “Pemuda itu adalah engkau…”

Saya tidak tahu, siapakah yang Allah tetapkan untuk saya. Apakah seseorang yang baru saya lihat seumur hidup, atau orang yang membuat saya berkata, “Oh dia, tahu begitu kenapa waktu itu jauh-jauh carinya?” Saya masih membuka pikiran untuk semua kemungkinan. Selama tidak melanggar batasan Allah. Kalaupun ada nama yang terlintas di hati, saya tidak berani mendahului Allah. Dia lebih mengetahui apa yang baik bagi hamba-Nya. Semoga tetap diluruskan niat dan laku saya.

September 2011,  masih mengumpulkan “amunisi”…

 

Iklan
Kategori:Hari-Hari
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: