Beranda > Hari-Hari > Buat Apa Ngeblog?: Dari Gie, Raditya Dika, hingga Skripsi

Buat Apa Ngeblog?: Dari Gie, Raditya Dika, hingga Skripsi

Sore ini, saya iseng-iseng mengunjungi blog Raditya Dika, si Kambing Jantan.And you know what? I found out that I couldn’t stop myself reading it! Ada-ada aja memang yang ditulis di blog itu. Dan semuanya ditulis dengan begitu kocak, atau dengan kata lain, Raditya Dika banget!

Selama ini saya menganggap Raditya Dika cuma seorang anak muda yang kebetulan blognya disukai banyak orang, lalu kemudian blognya dibuat buku dan film, lalu kemudian kebetulan dia jadi pembawa acara TV. Yes, I thought he was just a man of coincidences.

Kenapa? Jujur, saya sebelumnya tak  pernah baca tulisannya. Selama ini hanya dengar dari teman, “Eh, dah baca Kambing Jantan belon?” , baca resensinya, dsb. Yang terbersit di benak saya, “Yaelah, cuma orang cerita tentang kehidupan sehari-harinya aja bisa laku amat…”

Saya dulu berpikir, “Ngapain menghabiskan waktu buat sekedar menyimak keluh-kesah orang lain tentang dunia? Masalah gua sendiri juga dah banyak!” Itulah dulu juga pendapat saya tentang jutaan orang lain yang dengan rajin menceritakan hal-hal kecil kehidupannya di blog.  Dari yang patah hati, wisata kuliner ke warung anu, bahkan sampai binatang peliharaannya yang masuk angin… (What?) O ya, dulu saya juga mikir, “Nggak cowok banget sih kayak gitu!” Ya, saya alergi dengan kata bersinonimkan buku catatan harian yang kedengaran seperti nama penyakit pencernaan itu. Dan persepsi saya tentang blog dulu adalah online diary. Titik. (Saya masih ngerasa nggak nyaman menulis kata itu, ckckck…)

Persepsi saya tentang tulis-menulis catatan harian mulai berubah ketika saya mengenal sosok Soe Hok Gie. Aktivis ’66 yang diperankan oleh Nicholas Saputra dalam biopic-nya. Juga meskipun saya tidak  suka dengan mendiang Ahmad Wahib dan pemikiran liberalnya, kedua sosok ini (Gie dan Wahib) menyadarkan saya bahwa, “It’s OK to write down your thoughts, activities, and feelings !” Saya baru sadar, bahwa ternyata kedua orang itu, meskipun mati muda, pikirannya tetap hidup dan mempengaruhi generasi sesudahnya. Dan pikiran-pikiran itu diambil dari catatan harian mereka, dari sesuatu yang tadinya saya anggap cemen.

Maka, saya mulai ngeblog. Dengan idealisme membuncah, bahwa mungkin satu saat nanti tulisan saya akan merubah dunia. Bahwa yang saya tulis akan mencerahkan orang lain. Blog pertama yang saya punya adalah blog bawaan friendster (yang katanya sekarang sudah almarhum, benarkah?).  Lalu loncat ke Blogspot, Multiply, dan sekarang menetap di WordPress.

Idealisme saya makin menjadi ketika membaca blog Pak Salim A. Fillah. Dengan bahasa yang nyastra, beliau mengemas peristiwa sejarah dan kajian agama dengan apik dan menarik. Jujur, gaya penulisan beliau mengingatkan saya pada Alm. Ust. Rahmat Abdullah dan Pak Anis Matta. Dan saya pun berusaha menjadi seperti mereka, menjadi orang besar dengan cara menulis hanya tentang hal-hal (yang menurut saya) besar. Tanpa saya sadari, pola bertutur saya akhirnya terpengaruh mereka. Saya berusaha agar isi blog-blog saya bermanfaat dan dikunjungi orang banyak.  Meskipun pada kenyataannya, sebagai seorang dengan pola belajar visual, blog ini lebih menjadi galeri hasil otak-atik digital imaging saya. Dan saya sangat anti menulis hal-hal kecil di blog saya. Blog saya tak boleh menjadi <em>online diary (saya makin muak dengan kata yang satu itu, hoeekkk….cuih!) Namun saya mendapat sudut pandang baru sore ini…

Sowan ke blog seorang Raditya Dika sore ini, paling tidak ada beberapa hal yang bisa saya ambil hikmahnya:

Menulis hal kecil dan remeh temeh dalam hidup tak ada salahnya. Paling tidak kita punya dokumentasi tentang hidup pribadi kita, yang mungkin kelak bisa dibagi ke anak cucu… (Lihatlah betapa alay-nya bapakmu waktu muda, Nak… 😛 )

Menulis detil hidup hari ini, paling tidak kita tahu bahwa kita sudah melakukan sesuatu hari ini. Ada kemajuan yang tercatat. (Raditya menulis jurnal tentang proses penulisan karya-karyanya, saat stuck, lancar, padat merayap, dll.) Dan saya terinspirasi untuk melakukan hal yang sama pada proses penulisan skripsi saya. Sebagai reward untuk diri sendiri. Karena menurut salah satu artikel yang saya baca, untuk tetap konsisten melakukan tugas besar, pecah ia menjadi tugas-tugas kecil, lalu beri hadiah pada diri Anda saat berhasil melaksanakan tugas-tugas kecil itu. Juga mengingatkan diri sendiri, nulis blog aja bisa, masak skripsi nggak ?

GO BLOGGING!!! (Bukan goblog-ing…)

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: