Beranda > Uncategorized > Sendiri

Sendiri

“Ya Tuhanku, janganlah Engkau membiarkan aku hidupku seorang diri, dan Engkaulah pewaris yang paling baik.” (QS. Al-Anbiya’: 89).


Kata “sendiri” bisa menjadi sebuah berkah, atau musibah, tergantung bagaimana cara ia disikapi. Ia menjadi berkah ketika kemudian terbit kesadaran dalam diri yang membuah dalam laku. Kesadaran bahwa nanti, satu hari, kita akan ditinggal sendiri dalam kubur oleh orang-orang yang kita cintai. Betapapun kita mencinta dan dicinta mereka, namun jika dunia sudah berbeda maka habis perkara kecuali tiga. Bahwa setelah itu pun kita akan disidang, menghadap Allah, juga sendiri-sendiri. Tak ada satu pun yang bisa membela karena masing-masing kita punya kesalahan sendiri.

Ia menjadi musibah, ketika kita merasa sendiri dan lepas dari pertolongan serta pengawasan Allah. Bahwa seolah-olah kita bisa berbuat seenaknya, tanpa konsekuensi apa-apa. Atau seolah-olah segala prestasi dan keberhasilan kita karena jerih payah manusiawi kita, tanpa campur tangan-Nya.

Maka, mari terus mengulang munajat Nabi Zakaria lewat lisan kita…

Iklan
Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: