Beranda > budaya > Yang Sunnah, (harusnya) Yang Mudah

Yang Sunnah, (harusnya) Yang Mudah

Beberapa tahun lalu, saya terkaget-kaget membaca sebuah berita di harian Pos Kota. Beritanya sendiri sebenarnya bukan hal yang mengguncang dunia, sederhana saja. Seorang PSK melaporkan “klien”-nya ke Polisi karena ia, si PSK, dibayar dengan uang palsu.

Terlepas dari tidak halalnya ia sebagai sebuah kerja, prostitusi (katanya) adalah salah satu bisnis tertua di dunia. Dan uang palsu, bukan hal yang aneh di sistem ekonomi yang menggunakan uang kertas. Yang penting punya teknologi cetak mumpuni, jadilah si pembuat uang palsu juragan baru.

Lalu apa yang aneh? Yang membuat terkaget-kaget? Nominal uangnya.

TIGA RATUS RIBU RUPIAH. Ya, tiga lembar bergambar Soekarno-Hatta di atasnya.

Ilustrasi: Uang Palsu

Hanya dengan uang sebesar itu, orang sudah bisa berzina. Padahal ialah dosa yang menjadikan pelakunya terlaknat, rusaknya nasab, dan bahkan kesalahannya harus ditebus dengan nyawa. Haram, sudah jelas. Tak usah ditanya lagi. Karena kita bahkan tak boleh sekedar mendekati.

Di sisi lain, menikah, yang disunnahkan Rasul bagi para pemuda terasa begitu sulitnya ( baca: mahalnya ). Untuk sekedar nikah dan mengurus administrasi KUA saja, konon mesti keluar dana setengah hingga satu juta. (Maklum, yang nulis juga belum pernah, jadi nggak tau persisnya). Untuk walimatul urs atau resepsi, sepuluh juta untuk standar Jakarta katanya cuma numpang lewat ya? Seorang ibu, tetangga saya yang tak usahlah saya sebut namanya, pernikahan anaknya bahkan akhirnya “nggak dirame-ramein”, cuma kendurian saja.

Sekedar Ilustrasi : Kendurian

Karena si anak lelakinya deret angka nol di tabungan anaknya “nggak cukup”,  cuma sekitar tujuh juta. Buat Anda yang berpunya, jumlah segitu memang kecil saja. Setara handheld yang bermerek sama dengan favorit Obama. At least,  itu yang kemudian dirilis infotainment tetangganya dan tak sengaja mampir di telinga saya.

Pengertian “dirame-ramein” di sini adalah sebagaimana yang mungkin jamak ada di masyarakat kita: Si Pengantin Lelaki, setelah sekian lama jadi bujangan, harus rela jadi pajangan. Bersama isterinya, ia berdandan bagai raja dan ratu semalam. Tersenyum pada semua tamu, menerima do’a (dan amplop tentu saja) dengan bahagianya. Di teras rumah, makanan lezat menanti, sebagai sarana perbaikan gizi sehari-hari 😛 Hiburan pun tak lupa digelar, ada yang sederhana seperti nasyid, hingga joget artis dangdut erotis  (cape deh…). Maka, tak sedikit orang tua yang menganggap angpau walimah bagai investasi. Supaya nanti tak kecil nominal yang diberi, dermawan-dermawanlah ke tetanggamu yang berhajat hari ini… :O

Sekedar Ilustrasi: Walimatul Urs

Zaman dulu, (sekarang masih juga mungkin ya?) wajarlah kemudian ketika Pak Fulan menikahkan anaknya, maka berkurang luas tanahnya. Atau beberapa ekor ternaknya. Biar tekor, asal kesohor. 

Saya hanya menyayangkan begitu jauh bedanya. Yang halal dan haram. Meskipun nikah memang tak cuma tentang hal yang satu itu saja, tapi yang satu itu yang dulu pernah menjerumuskan Zulaikha. Yang membuat Yusuf a.s. lebih rela jadi narapidana asal tak mengikuti godaannya. Mengiris habis iman Birshish.

Bukan berarti saya memprovokasi untuk datang meminang dengan tangan hampa dan tanpa ikhtiar apa -apa. Bukan itu maksudnya. Saya hanya ingin mengajak menyimak. Permudahlah, jangan mempersulit. Bukankah batas minimalnya seekor kambing pun bisa? Begitu kata kanjeng Nabi. Jangan memaksa, dan mengada-ada.  Wallahu a’lam bis-shawab. Yang benar dari-Nya, maka yang salah adalah khilaf saya.

Iklan
Kategori:budaya Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: