Beranda > budaya > Kita dan Budaya Tionghoa : Catatan di Malam Imlek

Kita dan Budaya Tionghoa : Catatan di Malam Imlek

Tidak, saya bukan keturunan Tionghoa. Sejauh yang saya tahu saya adalah seorang muslim berdarah Jawa yang lahir dan besar di Jakarta. (Dan saya sangat bersyukur dan bangga bisa menjadi seorang muslim.) Hanya saja saya sempat bertanya-tanya (dalam hati), adakah di antara leluhur saya yang berdarah Cina namun menyembunyikan identitas Tionghoa-nya? (Seperti beberapa tokoh sejarah di Kesultanan Demak yang konon juga punya nama Cina). Sebab almarhum Uwak, kakak sepupu, serta ibu saya dan anak-anaknya bermata sipit. (Kebetulan saya sendiri dapat stok mata yang belo 😀 ). Almarhum Uwak bahkan sangat mirip dengan orang Tionghoa, mungkin kalau beliau iseng masuk kelenteng takkan ada yang menyangka beliau seorang muslim.
Budaya tionghoa dan orang-orangnya bagi sebagian rakyat “pribumi” diperlakukan berbeda. Ada dualisme dalam masyarakat kita dalam bersikap. Di satu sisi, budaya tionghoa meresap dalam budaya Indonesia dan menjadi bagian yang memperkaya. Di sisi lain, masih ada pembedaan sosial antara “pribumi” dan “non pribumi”. (Saya menggunakan istilah yang ada dalam tanda petik untuk sekedar memudahkan pembahasan. Buat saya, semua orang yang lahir dan besar di sini adalah pribumi. Yang perlu diingat, pembedaan ini tidak hanya dari salah satu pihak, namun dari keduanya–“pribumi” dan “non pribumi” )

Budaya Tionghoa, dari Lu-Gua sampai Amplop Lebaran
Seperti yang sudah saya singgung di awal, banyak sekali jejak budaya Tionghoa (khususnya dialek Hokkian) yang bahkan sudah menjadi milik bersama, hingga jika saya bilang bahwa itu adalah hasil akulturasi, bisa jadi ada orang yang tak percaya. Berikut di antaranya:

Kuliner : Mie, Bakso, Bakpao, Kecap (ke-ciap), Bihun, Kwetiau, Tangkue, Kue Mangkok, Kue Ku, ikan Cuwe (choe), Capcay.
Sistem Kekeluargaan dan Pergaulan: Lu-Gua, Nyak (ng-nia), Engkong, dan Encing (ng-cim)
Seni : Gambang Kromong Betawi

 


Pakaian: Baju Koko, Kebaya Encim, Pakaian Pengantin Betawi
Tradisi: Penyalaan petasan di acara hajatan, amplop lebaran dan hajatan. Ang Pau = Amplop Merah, perhatikan amplop kondangan biasanya punya garis merah di tengahnya.

Belum lagi pengaruh budaya Cina dalam pop culture. Masih ingat sinetron silat Sun Go Kong, Kembalinya Pendekar Rajawali, Legenda Siluman Ular Putih, atau Golok Pembunuh Naga? Jika ya, masih ingat Khoo Ping Ho? 😀

Rasialisme dan Stereotipe

Ya, memang kedua hal itu masih ada dan mewarnai interaksi dua kelompok sosial ini. Dari sudut pandang “mayoritas”, ada anggapan bahwa etnis Tionghoa itu (maaf) business animal yang mata duitan. Belum lagi pandangan bahwa mereka tak menghargai karyawan (saya jujur lebih suka istilah ini dibandingkan kata ‘buruh’). Sejauh yang saya tahu, memang etnis ini punya tradisi bisnis turun menurun. Memang ada sebagian yang songong dan mentang-mentang. Saya pernah dapat job mensurvei perusahaan-perusahaan. Memang petinggi-petingginya banyak yang bermata sipit. Ada yang sulit sekali ditemui dan meremehkan, padahal saya sudah capek-capek bolak-balik Jakarta Selatan-Jakarta Utara. Ada yang mau ditemui pun, kok ya mahal sekali senyumnya :(. Saya jadi paham kenapa stereotipe itu muncul. Tapi teman sekelas saya di kampus pun ada yang Tionghoa, dan beliau merupakan orang yang ramah dan suka membantu. Sebagai seorang mualaf, keputusannya berjilbab di usia muda patut diacungi jempol. Bahkan banyak wanita yang mengaku muslimah sejak lahir malah ogah melakukannya. Salut buat Mbak Dewi. (Kapan mau ngirimi undangan? 🙂 )
Dari sisi mereka yang dibilang Cina, adalah tidak nyaman mendapatkan perlakuan yang diskriminatif cuma karena kulit yang beda warna atau beda lebar mata. Ini saya ketahui dari tulisan-tulisan mereka di beberapa forum internet. Banyak dari mereka yang dengan bangga berucap “Aku Orang Indonesia” dan bukan “Aku Cina”.
Pada intinya, kita harus banyak-banyak berbaik sangka dan terus mencoba mengenal lebih baik, ke semua etnis. Bukankah memang Allah menciptakan kita bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal? Mahabenar Allah dengan segala firman-Nya.

Sumber mengenai akulturasi budaya Tionghoa:
Di Sini

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: