Kencleng Cinta!

Kencleng, adakah di antara Anda yang belum tahu artinya? Itu lho, kotak kecil yang biasa ditaruh di masjid-masjid untuk sumbangan. Nah, kali ini saya akan menulis tentang Kencleng Cinta, sebuah program manajemen keuangan yang cocok diterapkan bagi majelis ta’lim, kelompok pengajian, mentoring, atau kelas di sekolah. Dengan konsep ini, membayar uang kas demi kepentingan bersama) insya Allah tak terasa berat dan memberikan manfaat tersendiri. Saya pertama kali dapat konsep ini dari seorang kawan yang aktif di sebuah BMT. Kenapa disebut kencleng cinta? Karena kencleng yang beliau pakai di lembaganya berbentuk hati. Ini yang harus kita siapkan:

  1. Kencleng (Lebih praktis pakai celengan kaleng yang ada gemboknya) dengan jumlah sesuai jumlah anggota komunitas.
  2. Buku kas (biasa ada di tukang fotokopi)
  3. Buku tabungan (yang ada di tukang fotokopi juga dan bergambar logo Tut Wuri Handayani), sama jumlahnya dengan jumlah anggota.

Dalam komunitas tersebut kemudian ada dua peran. Satu sebagai administrator, dan yang lain sebagai peserta.  Arahan teknis pelaksanaannya bisa dilihat di bawah ini:

  1. Komunitas tersebut menyepakati periode yang digunakan, apakah pekanan atau bulanan.
  2. Setiap peserta diserahi sebuah kencleng untuk diisi setiap hari dan sebuah buku tabungan. Besarannya tergantung kemampuan dan keinginan. Kunci dari kencleng dipegang oleh administrator.
  3. Setiap periode berakhir, kencleng dikumpulkan ke administrator untuk dibongkar dan dihitung. Hasil yang ada dicatat ke dalam buku tabungan masing-masing.
  4. Hasil yang sudah terkumpul kemudian dibagi setelah beberapa periode (misal setahun). Sebagian besar untuk si peserta dan sebagian kecil masuk ke kas komunitas. Pembagiannya bisa berdasarkan persentase (misal 80% peserta, 20% kas) atau ditetapkan jumlah tertentu (misal Rp. 5.000,- / pekan).

Dengan begini, semuanya untung. Peserta bisa membayar uang kas dengan ringan sekaligus menabung, majelis ta’lim dapat kas tepat waktu. O ya, pada kelompok pengajian yang dibawah umur (anak SD / TK) guru bisa berperan sebagai administrator. Jika pada kelompok sebaya, bendahara-lah orangnya. Tak salah juga bendahara juga ikut nimbrung sebagai peserta (ikut nabung), asalkan bisa tetap adil dan amanah.

Sekian uraian singkat ini, semoga berguna.

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: