Beranda > Uncategorized > Seandainya Ayah Saya…

Seandainya Ayah Saya…

Masjid Bahrul Ulum, Puspiptek Serpong…

Beberapa semester lalu…

Trainer kami malam itu, Bang Muhammad Al-Falaq membuat sebuah simulasi yang tak biasa. Dimintanya masing-masing kami mengambil selembar kertas dan alat tulis. Di lembar kertas itu kami diminta menulis beberapa kumpulan  kata.

Pertama, beliau meminta kami menulis lima kriteria anak yang ideal. “Jika antum semua punya anak kelak, tuliskan anak macam apa yang antum ingin miliki…”

“Kedua, tuliskan lima ciri calon pasangan hidup yang antum idam-idamkan selama ini!”

Ketiga, beliau kemudian meminta kami semua menuliskan harapan. “Jika antim boleh berharap  antum bisa merubah sifat-sifat orang tua antum menjadi lebih baik dari apa yang ada saat ini, tuliskan lima perubahan apa yang sangat antum harapkan!”

Setelah beberapa waktu, beliau meminta kami membacakan jawaban kami satu persatu keras-keras.

Untuk pertanyaan pertama ada yang menulis rajin beribadah,  patuh pada orang tua, cerdas, dll. Untuk yang kedua teman-teman  ikhwan ada yang menulis jago masak, enak dilihat, baik hati, tidak sombong, gemar menabung, dan lain-lain. Nah, dari fraksi akhwat ada yang menulis bertanggung  jawab, ganteng, shalih, dan banyak lagi.Pertanyaan ketiga, jawabannya variatif, mulai dari lebih meluangkan waktu, berhenti merokok, hingga lebih sehat.

“Sekarang,” kata Bang Falaq, “Pikirkan bahwa orangtua antum yang saat ini menunggu di rumah, juga memiliki kriteria yang sama seperti yang antum tulis di pertanyaan nomor satu. Di masa mudanya dulu, kriteria anak macam inilah yang beliau idam-idamkan. Sudahkah antum memenuhi harapan beliau?”

Kami terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing…Mungkin ada yang merasa terhakimi atau lainnya, entahlah…

“Yang kedua, sudahkah antum layak mendapatkan calon isteri / suami seperti yang antum tulis di kriteria kedua? Lelaki baik hanya untuk wanita baik, begitu juga sebaliknya…”

Suasana masih sama. Hening. Kami makin dalam terhanyut.

“Yang ketiga, kriteria yang antum tulis tadi adalah harapan antum pada orangtua antum…Coba situasinya dibalik. Bagaimana jika harapan itu adalah HARAPAN ANAK ANTUM PADA ANTUM SEBAGAI ORANGTUANYA? Sanggupkah antum memenuhi?!!”

Saya tak sanggup berkata apa-apa. Seperti ada sesorang yang meninju saya tepat di muka. Sebab saya menulis, “Seandainya ayah saya seorang ustadz”.

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: