Beranda > Uncategorized > Percaya dan Mempercayakan, Beda!

Percaya dan Mempercayakan, Beda!

Seorang pemain sirkus terkenal Amerika suatu ketika membuat heboh negerinya. Ahli berjalan di atas tambang itu berencana melintasi tali yang dibentangkan di atas air terjun Niagara yang legendaris. Banyak orang berpikir ia gila, karena mau mempertaruhkan nyawanya demi melintasi air terjun raksasa itu.

Hingga akhirnya, sang ahli sirkus benar-benar menjalankan niatnya itu. Gemuruh air terjun mengaduk-aduk emosi para penonton dan membuat mereka menahan napas. Di antara  para wartawan pun bahkan ada yang sudah mempersiapkan kolom obituari (duka cita) khusus bagi sang ahli sirkus.

Ketika ia akhirnya sampai di seberang, semua berbalik seratus delapan puluh derajat menjadi euforia yang menjangkiti benak semua yang hadir. Ucapan selamat datang bertubi-tubi. Orang-orang mengelukan nama si ahli sirkus. Di sela wawancara, seorang wartawan bertanya, bagaimana ia bisa memiliki keahlian sehebat itu. Jawaban mengejutkan keluar dari mulutnya, “Kalau Anda semua yakin bahwa saya begitu ahli, adakah di antara Anda yang mau saya gendong sambil melintasi lagi tambang itu dan kembali ke tempat saya semula?”

Semua orang diam. Tak ada satupun yang berani menjawab pertanyaan sang ahli sirkus. Tak ada, kecuali seorang anak kecil. “Aku mau!” jawabnya lantang. Singkat cerita, si ahli sirkus berhasil menggendong sang anak kecil menyeberangi Niagara. Aplaus dan euforia kembali menyeruak, namun kali ini mengarah ke bocah berambut merah itu. Keberaniannya tentu bukan sesuatu yang bisa diremehkan. Wartawan pun menanyai bocah itu mengapa ia mau melakukannya. Tahukah Anda jawaban si anak?  “Ahli sirkus itu ayahku. Aku percaya bahwa ia benar-benar ahli, dan ketika di atas tali aku mempercayakan diriku padanya…”

***

Sahabatku, entah kita sadar atau tidak…Selama ini kita mungkin sudah memperlakukan Allah seperti yang para wartawan itu lakukan pada si ahli sirkus. Ketika kita ditanya apakah kita percaya bahwa Allah adalah Rabb semesta alam yang Mahakuasa, kita akan menjawab, “Ya.” Namun banyak di antara kita yang dikuasai kecemasan ketika urusan-urusan kita berjalan tak sesuai harapan. Mungkin ada di antara kita yang lama tak mendapatkan pekerjaan, rugi besar dalam perniagaan, atau terasa jodoh tak kunjung mendekati sementara batang usia makin meninggi  Seolah-olah kita “menolak” untuk mempercayakan urusan-urusan kita pada-Nya. Padahal ikhtiar kita pada akhirnya harus takluk pada kehendak-Nya. Ia yang lebih tahu apa yang lebih baik bagi hamba-Nya. Meminjam kata-kata Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) dalam satu cerpen beliau, kita harus mau mengakui kediktatoran-Nya, bahkan kita harus mengakui bahwa hanya Ia-lah yang pantas menjadi diktator. Kita tak bisa apa-apa kecuali tunduk. Entah kita suka atau tidak.

“Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, yang Maha Suci, yang Maha Sejahtera, yang Mengaruniakan Keamanan, yang Maha Memelihara, yang Maha perkasa, yang Maha Kuasa, yang memiliki segala Keagungan, Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (TQS Al-Hasyr: 23)

Saya tak bermaksud mempengaruhi Anda  tuk menjadi fatalis. Bukan, sama sekali bukan. Kita tak sedang bicara tentang sebuah jalan bernama ikhtiar. Kita bicara soal sebuah rumah di ujung jalan itu. Sebuah rumah bertuliskan “TAKDIR” di pintunya.

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: