Bakar Kapal!

Mei 2012 ini adalah bulan yang bersejarah bagi saya. Insya Allah, per 1 Juni 2012 saya akan berganti status. Belum, belum berubah dari “bujangan” ke “menikah”, tapi dari “karyawan” ke “full time entrepreneur”. Saya memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak sebagai tenaga pengajar di sebuah bimbel di mana saya sudah mengajar selama 2 tahun.
Takut? Tentu saja. Dari yang awalnya punya gaji fixed per bulan, kemudian menjadi apa yang boleh dibilang “nol”. Apalagi bimbel yang saya tinggalkan menawarkan gaji Rp. 3 Juta per bulan di tahun ajaran baru. Jumlah yang cukup menggiurkan untuk ukuran tahun 2012.
Saya memutuskan membuka usaha sendiri, bersama dua orang adik kelas di kampus. Saya berpikir, gelar sarjana yang saya dapatkan, terlalu murah jika outputnya hanya jadi karyawan seumur hidup. Lha wong Megawati Soekarnoputri saja yang cuma lulusan SMA bisa jadi presiden!
Bismillah, semoga Allah memudahkan, saya juga belum tahu apa yang menanti saya di depan…
Menjelajahi Uniknya Peta Daging Sapi
Kalau Anda pernah menemani adik, keponakan, atau putra-putri tercinta menonton program TV Dora The Explorer, pasti tidak asing lagi dengan salah seorang karakter yang selalu memberitahu Dora jalan menuju tujuannya. Siapa lagi kalau bukan Peta? Nah, ternyata, bagi Anda para karnivora penggemar daging sapi di luar sana, tubuh sapi pun punya peta yang membedakan satu dan lainnya. Pembedaan ini penting bagi tercapainya citarasa dan tekstur yang maksimal bagi masakan berbahan dasar sapi.
Dari tadi saya terus berbicara tentang peta daging sapi tapi tidak menunjukkannya… Oke deh, ini dia…
Seperti yang Anda bisa lihat, ada 12 “negara” dalam benua sapi, berikut penggunaannya dalam masakan, antara lain:
1. Daging punuk ( blade ) – Empal, semur, sop, kari, abon dan rendang.
2. Daging paha depan ( chuck) – Empal, semur, sop, kari, abon dan rendang.
3. Daging lemusir (cub roll) – Bistik, sate, rendang, empal, sukiyaki.
4. Has luar ( sirloin) – Bistik, roll.
5. Has dalam ( fillet) – Grill, steak, sate, sukiyaki.
6. Penutup + tanjung (Top side + Rump) – Bistik, empal, rendang, dendeng, baso, abon.
7. Pendasar + Gandik ( Silver side) – Bistik, rendang, empal, dendeng, baso, abon
8. Daging Kelapa ( Inside) – Cornet, sate, daging giling, sop, rawon.
9. Sengkel ( Shank) — Semur, sop, rawon, empal.
10. Samcan ( Flank) – Cornet, sate, daging giling, sop, rawon.
11. Daging iga ( Rib meat) – Cornet, roll, rawon, sop, roast.
12. Sandung lamur ( Brisket) — Cornet, roll, rawon, sop, roast.
Jadi, lain kali Anda menggunakan daging sapi dalam masakan, pastikan sesuai peruntukkannya supaya lebih maknyuus….
This posting is a featured posting, supported by Era Jaya Beef
Bubur Ayam, Indonesian Rice Porridge with Chicken Flakes

Bubur Ayam is one of the most popular breakfast dishes in Indonesia. As implied by its name, it consists of rice porridge, chicken flakes, shredded cakwe, crackers, fried soya beans which are seasoned with chicken stock, chili sauce, and sweet soy sauce. Bubur Ayam Cirebon, which is the most popular variety of this dish in Jakarta, also put skewed chicken livers and intestine, and sometimes boiled quail eggs as side dishes. In some place, the cook will add chopped chinese celery as garnish.
It is originally sold as a street food here in Indonesia, so the price is really affordable. It ranges from Rp. 5.000,- to Rp. 10.000,- (about US$ 0.5- US$1) depends on side dishes you have with the main course. It is usually sold using mobile booth (gerobak) or a permanent food stall.
The taste is a great blend of savory, sweet, and hot at the same time. Crackers also have a nice contribution by giving crispy texture to the dish. For some people it might not make you really full, but it is really a nice way to start your day.
Since it is famous as a breakfast course, you might have difficulties finding bubur ayam at night or during lunchtime. But some well-known bubur ayam stalls in Jakarta open all day long and even at nights, so you don’t have to worry. In Jakarta, Tebet area is one of homes of the famous bubur ayam stalls. Anytime you go to Indonesia, give it a try!
Menuhankan Allah Dengan Sebenar-benarnya
Beberapa bulan ini Allah menguji saya dengan beberapa hal yang kemudian membuka mata saya tentang bagaimana sebetulnya saya harus memposisikanNya. Meskipun saya akui, bukan berarti saya kemudian tak berbuat dosa. Dosa dan maksiat itulah yang kemudian harus saya ‘bayar tunai’, agar tak lalai.
Yang pertama, saya belajar bagaimana posisi sebenarnya takdirNya. Ketika kita sakit, entah sudah jungkir-balik berobat bagaimanapun, kesembuhan tetap ada di tanganNya. Kesembuhan bukan tergantung semujarab apa obat yang kita telan. Tentang susah dan senang, adalah hak prerogatifNya untuk memberi susah dan senang pada kita. Yang penting kemudian adalah bagaimana penilaian diri kita menurutNya. Siapa yang menyertai kita saat itu? Allah, ataukah yang lain?
Kedua, saya belajar tentang ketergantungan. Betapa saya selama ini sebagai manusia, banyak bergantung (mungkin secara tidak sadar) kepada selain Allah. Saya mengeluhkan pemberianNya pada makhluk, merasa tak berdaya ketika tak punya uang. Seolah uang adalah penentu segalanya.
Joglo, Desember 2011
ditemani cedera di kaki…
Learn the lesson of life…
Life ain’t that easy…
It’s always a wonderful thing, but believe me:
It ain’t that easy
Things don’t always go along with your expectation
Shit happens, one thing is for sure.
Jer besuki mowo beo,
Success has its price
All you have to do is to pay the price.
Sweat, blood, and tears. And prayers.
Keep moving forward.
Downloadable: Verb Tense Matrix
Setelah hampir sebulan, akhirnya saya bisa menampilkan lagi materi baru untuk diunduh. Materi kali ini, Verb Tense Matrix, tabel yang dipakai untuk membantu menghapalkan pola kalimat 12 tenses yang paling populer di SMP dan SMA negeri. Silahkan masuk ke menu [Downloadables]. Just download and enjoy it!
Ada Yang Punya…
“Ssst… Jangan digodain… Ada yang punya…”
Ketika kita mendengar frase “ada yang punya”, pikiran kita hampir pasti langsung mengarah ke arah hubungan romansa antara pria dan wanita. Mungkin yang halal dan melimpah berkah antara dua insan yang sudah menikah, bisa juga cuma sekadar pacaran, tanpa kejelasan. Khususnya jika diucapkan seperti kalimat yang saya tulis di atas.
Tapi saya, (atau mungkin kita semua?) seringkali lupa. Bahwa sebenarnya, siapapun kita, dan apapun status di KTP, kita selalu ada yang punya. Siapa? Tentu saja Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Milik nggendhong lali, rasa memiliki itu sering mengajak rasa lalai. Karena kita merasa memiliki, kita merasa berhak memperlakukan “milik kita”sesuka hati. Motor aing kumaha aing, motor saya ya terserah saya, begitu yang pernah saya baca di stiker sebuah motor.
Begitu pula hidup. Saya, seringkali menganggap hidup saya semata punya saya. Hingga saya sering bertindak seenaknya. Padahal tidak. Semua yang ada di hidup saya sebenarnya milikNya. Dan nanti, akan ditanya lagi…


Mereka Bilang...